Ashabul Kahfi : Tujuh pemuda tertidur lebih dari 300 Tahun

Kisah Ashabul Kahfi dimulai dari ketika tujuh pemuda sedang tidur di dalam goa. Mereka dibangukan dan keluar dari goa tersebut. Ketika sampai di kota, ketujuhnya heran. Kotanya sudah berubah sama sekali dari terakhir kali mereka tinggalkan. Peristiwa ini terjadi sebelum zaman Nabi Muhammad SAW dan dijelaskan dalam Alquran surat Al-Kahfi.null

Semua dimulai dari keberadaan raja yang menyembah berhala. Raja dan pasukannya menyerbu kota Afasus. Raja itu bernama Diqyanius yang berasal dari Romawi itu berhasil menguasai kota Afasus.

Akan tetapi, sebagian rakyat tentu saja menolak, termasuk ketujuh pemuda tersebut. Mereka bersembunyi dari kejaran pasukan raja. Supaya tidak terbunuh, mereka bersembunyi di dalam goa.

Mereka tertidur lalu bangun 309 tahun kemudian. Kota mereka tentu saja sudah berubah, tidak lagi mengalami perang, tapi mereka sudah tidak berada di kota yang sama dengan yang mereka kenal terakhir kali.

Tertulis dalam Al-Qur’an

Nama tujuh pemuda Ashabul Kahfi tersebut adalah Maxalmena, Martinus, Kastunus, Bairunus, Danimus, Yathbunus, dan Thamlika. Kisah mereka kemudian dikenal dengan nama Ashabul Kahfi. Kisah Ashabul Kahfi ini tertuang dalam Surat Al-Kahfi ayat 10-11:

I awal-fityatu ilal-kahfi fa ql rabban tin mil ladungka ramataw wa hayyi` lan min amrin rasyad. Fa arabn ‘al nihim fil-kahfi sinna ‘adad

“Ingatlah ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, “Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami”. Maka Kami tutup telinga mereka di dalam gua itu, selama beberapa tahun.” (QS. Al-Kahf/18: 10-11).null

Kelanjutan ceritanya tertuang dalam Surat Al-Kahfi ayat 19. Allah membangunkan para pemuda yang tertidur di goa ketika kota telah aman.

Wa kalika ba’anhum liyatas`al bainahum, qla q`ilum min-hum kam labitum, ql labin yauman au ba’a yam, ql rabbukum a’lamu bim labitum, fab’a aadakum biwariqikum hih ilal-madnati falyanur ayyuh azk a’man falya`tikum birizqim min-hu walyatalaaf wa l yusy’iranna bikum aad

“Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: ‘Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)’. Mereka menjawab: ‘Kita berada (disini) sehari atau setengah hari’. Berkata (yang lain lagi): ‘Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun.” (QS al-Kahfi:19).

Makna Kisah Ashabul Kahfi

Keputusan tujuh pemuda untuk berlindung di gua bukanlah sebuah pelarian tetapi cara mereka untuk menjaga keimanan terhadap Allah SWT. Sebab, tujuh pemuda itu tidak mau ikut dengan Raja Diqyanius yang menyembah berhala.

Pada Surat Al-Kahfi ayat 19, jelas bahwa Allah SWT lebih mengetahui segala macam hal termasuk jangka waktu tujuh pemuda itu tidur di dalam gua. Sementara bagian dimana mereka disuruh pergi ke kota dan memilih makanan yang baik ditafsirkan sebagai keluarga mana yang paling baik makanannya dan paling halal.

Demikian kisah Ashabul Kahfi yang semoga dapat menginspirasi Anda hingga dapat mencintai Sang Pencipta yang Maha Segalanya.

Tinggalkan Komentar