Terjadinya kiamat atau akhir dari dunia bisa dijelaskan secara sains oleh peneliti. Peneliti menggunakan hitungan energi, di mana alam semesta terus menerus mengalami penambahan.
Penelitian menghasilkan perkiraan bahwa suatu saat energi yang terdapat di alam semesta akan melampaui batas keseimbangan dan memungkinkan terjadinya kehancuran.null
Seperti diketahui, sains menjelaskan bahwa benda-benda di alam semesta terbentuk akibat terjadinya peristiwa Big Bang atau ledakan besar. Maka, benda-benda ini juga akan hancur karena terjadi ledakan besar akibat kekuatan energi yang melampaui batas.
Alquran menjelaskan bahwa alam semesta akan menyerupai awal pembentukannya. “(Ingatlah) pada hari langit Kami gulung seperti menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kami akan melaksanakannya,” bunyi Surah Al-Anbiya Ayat 104.
Menggulung pada ayat tersebut bisa menggambarkan penyusutan alam semesta karena energi yang terdapat di dalamnya melebihi batasan. Dalam ayat yang lain, Allah berfirman tentang penciptaan kembali alam semesta.
“(Yaitu) pada hari (ketika) Bumi diganti dengan Bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka (manusia) berkumpul (di Padang Mahsyar) menghadap Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa,” bunyi Surah Ibrahim Ayat 48.
Seperti dikutip dari buku ‘Sains berbasis Alquran’ karangan Ridwan Abdullah Sani, kondisi kehancuran alam semesta saat kiamat juga digambarkan pada Surah At-Takwir ayat 1-2.
“Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan,” bunyi ayat tersebut. Jika diperhatikan, ayat ini menjelaskan mengenai berkurangnya materi dan energi matahari, sehingga berubah menjadi bintang yang lebih redup. Selanjutnya, matahari akan berubah gelap tanpa mengeluarkan cahaya.
Salah satu cara Allah swt mencabut ilmu dari muka bumi adalah dengan diwafatkannya para ulama, penyangga dan penyebar ilmu. Sehingga penyebaran ilmu terhenti, pemahaman umat terhadap kedalaman ilmu semakin berkurang, dan keteladanan sikap serta perbuatan semakin jauh dari umat. Sehingga mereka mendapatkan ilmu bukan dari guru secara langsung melainkan dari media, ustadz google. Untuk itu dengan meninggalnya ulama berarti kualitas ilmu telah diangkat oleh Allah, sehingga yang tersisa bukanlah ilmu, melainkan sebatas aksesorisnya semata. Rasulullah bersabda :
“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menggangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah menanggkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. mereka sesat dan menyesatkan. (HR. Bukhari)
Di awal hingga pertengahan tahun 2020 tercatat banyak ulama yang diwafatkan oleh Allah swt. Memang dialah sang pemilik segala rahasia kehidupan namun dibalik itu semua ada pesan yang dapat kita pahami bahwa zaman ini telah semakin dekat dengan akhir.null
Pada beberapa bulan lalu, tepatnya 4 Juli 2020 Malang Raya telah kehilangan ulama kharismatik nya, gus Wahid yang dikenal dengan julukan Kyai Arema. Seorang ulama muda yang bisa diterima oleh semua kalangan mampu merajut berbagai komponen yang berbeda, pejuang ukhuwah umat Islam, yang tidak hanya sekedar berwacana dalil dan argumentasi dialektika, tapi beliau mewujudkannya dalam kenyataan melalui kebersamaan ukhuwah dengan kelompok yang berbeda. Bahkan semangatnya semakin membara saat menjelang kematiannya dalam menyuarakan kebenaran dan pembelaannya terhadap petjuangan umat Islam di negeri tercinta ini melalui penolakannya atas RUU HIP, yang telah jelas-jelas merongrong dasar negara dan kedaulatan NKRI.
Gus Wahid adalah seorang teman sekaligus sahabat yang dekat dengan siapapun, suka bercanda, renyah diajak bicara. Wafatnya telah membuat semua orang kehilangan. Namun ada ada pesan penting yang ditinggalkannya dan patut menjadi teladan bagi umat ini, khususnya para ulama dan pejuang agama Allah, yaitu :
Seorang ulama itu harus mampu mempersatukan semua komponen yang berbeda, mampu bergandengan tangan dengan siapa pun dan merajut ukhuwah dengan yang berseberangan jalan karena itulah hakikat silaturahim. Seorang ulama jangan menjadi pemecah belah umat, yang disebabkan oleh sikap fanatik (ashobiyah) atas kelompoknya sendiri, dan menganggap hanya kelompoknya sajalah yang benar dan kelompok yang lain adalah salah.
Seorang ulama ibarat cahaya yang mampu menerangi setiap ruang gelap. Masuk melalui celah-celah sekecil apapun dan memberikan seberkas cahaya sebagai penunjuk jalan. Seorang ulama harus mampu masuk ke semua kalangan. Dari masyarakat bawah hingga pejabat tinggi, dari yang berdasi hingga yang berkaos oblong, dari mereka yang berbaju parlente hingga yang bersandal jepit sekalipun, dari orang tua yang di masjid-masjid hingga anak muda yang di cafe-cafe. Semua mereka perlu merasakan indahnya dakwah dari para ulama.
Teguh dalam dakwah amar makruf nahi mungkar. Amar ma’ruf membutuhkan kelembutan dalam mengajak pada perubahan ke arah kebaikan agar orang merasa nyaman dan semua kalangan dapat menikmati ajakannya tanpa merasa terpaksa. Sementara nahi mungkar membutuhkan ketegasan dan keberanian untuk menyuarakannya bahkan jika perlu berteriak lebih kencang agar semua orang mendengarnya, memberikan perhatian hingga bersedia untuk menjauhinya. Penolakan atas kemungkaran dimaksudkan agar manusia tidak terjatuh dalam kehancuran dan kenistaan.
Berdakwah sampai mati. Berdakwah tidak berbatas waktu kecuali kematian yang menghentikannya. Seorang dai harus terus istiqomah menyuarakan kebenaran tanpa mengenal lelah hingga kematian yang menjemputnya untuk menghentikan langkahnya.
Ustad. Muhammad Baihaqqi, biasa dipanggil “Ustad. Bai” adalah seorang Qori’ (Pembaca Al-Quran) dari Jakarta Timur, tepatnya wilayah Cililitan.
Beliau lahir di Jakarta, berasal dari keluarga campuran Jakarta – Solo, Ayahnya berasal dari Jakarta dan ibunya berasal dari Solo.
Banyak prestasi dalam bidang Ilmu Qiroaat yang telah di sabet olehnya, baik dalam institusi Pendidikan maupun yang lainnya. Salah satu nya adalah Juara 1 MTQ Kementerian Agama DKI Jakarta/Jakarta Timur.
Beliau mempunyai riwayat pendidikan, dimulai dari SD yaitu SDN 04 Jakarta, dilanjutkan dengan SMP yaitu MTsN 14 Jakarta, dan SMA yaitu MAN 3 Jakarta.
Karir beliau dalam bidang Ilmu Qiroat dimulai pada usia beliau 10 Tahun, lebih tepatnya saat beliau di kelas 4 SD, beliau mulai latihan Ilmu Qiroat di daerah rumahnya, hingga saat ini, beliau masih selalu melatih bakat Qiroaat nya.
Sudah banyak sekali pengalaman yang telah dilewati oleh Ustad. Muhammad Baihaqqi, banyak rintangan dan kendala yang berhasil di lewati, dan beliau rela memperjuangkan waktu dan materialnya untuk memperdalam wawasan dalam seni Ilmu Qiroaat.
Semoga, kita disini senantiasa diberikan kenikmatan untuk bisa melantunkan ayat suci Al- Quran oleh Allah SWT, dan semoga biografi ini bisa membuat kita menjadi lebih dekat kepada Allah SWT, Aamiin Yaa Robbal Alamiin…
Sunan Giri lahir sekitar tahun 1442 Masehi di daerah Blambangan. Sunan Giri memiliki nama kecil Raden Paku atau Joko Samudro.
Ia merupakan putra dari Maulana Ishaq dan Dewi Sekardadu. Ayah Sunan Giri merupakan mubalig yang berasal dari Asia Tengah. Sedangkan ibunya merupakan anak dari Menak Sembuyu.
Sunan Giri dipanggil Joko Samudro karena sewaktu kecil dibuang ke laut. Karena dianggap berbahaya bagi kondisi kerajaan kala itu.
Ada dua versi yang menyebutkan alasan ini. Pertama karena dianggap membawa wabah penyakit. Kedua karena disingkirkan oleh patih kerajaan karena saat dewasa akan menjadi pewaris takhta.
Mendirikan pesantren
Dikutip dari Buku Mengenal Sembilan Wali (Wali Sanga) (2018) karya Susilarini, setelah dibuang ke laut, Sunan Giri ditemukan oleh saudagar perempuan, bernama Nyai Gede Pinatih.
Ia mempelajari dakwah dari Sunan Ampel, bersama dengan Sunan Bonang. Kemudian Sunan Giri dan Sunan Bonang sama-sama pergi ke Arab untuk memperdalam ilmu agama.null
Setelah kembali ke Tanah Jawa, Sunan Giri mendirikan pesantren di perbukitan Sidomukti daerah Kemobas, yang dinamai Pesantren Giri, yang merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam di Jawa.
Tidak hanya itu, Pesantren Giri semakin terkenal hingga ke area luar Pulau Jawa, seperti Kalimantan, Lombok, Sulawesi dan Maluku.
Selain terkenal, pesantren ini membawa pengaruh yang luar biasa, hingga akhirnya pesantren ini berkembang menjadi sebuah kerajaan kecil bernama Giri Kedaton. Kerajaan ini menguasai daerah Gresik dan sekitarnya, sebelum dijatuhkan oleh Sultan Agung.
Dalam Buku Kerajaan Islam di Jawa (2012) karya Alik Al Adhim, dituliskan jika Sunan Giri berdakwah dengan karya seni yang diciptakannya.
Menembang dan bermain
Sunan Giri membuat berbagai lagu Jawa dan juga lagu untuk permainan anak-anak. Lagu yang diciptakan mengandung ajaran Islam.
Contohnya adalah tembang Macapat, seperti Pucung dan Asmaranda. Sedangkan contoh lagu permainan anak-anak adalah Lir-Ilir, Jelungan, serta Cublak-Cublak Suweng.
Tujuan pembuatan tembang dan lagu permainan anak-anak adalah untuk menarik perhatian dari masyarakat. Selain itu lagu permainan juga ditujukan untuk mendidik anak – anak.
Usaha yang dilakukan oleh Sunan Giri berhasil. Banyak masyarakat yang akhirnya memutuskan untuk memeluk agama Islam.
Sunan Giri meninggal pada tahun 1506 Masehi dan dimakamkan di Desa Giri, Kebonmas, Gresik, Provinsi Jawa Timur.
Penyebaran Islam di Nusantara tidak terlepas dari peran para pedagang yang datang ke Nusantara.
Pedagang-pedagang tersebut berasal dari berbagai negara, seperti Arab, Mesir, Persia (Iran), dan Gujarat (India).
Kerajaan Islam pertama di Nusantara adalah Samudera Pasai yang berada di Pulau Sumatera.
Para pedagang tersebut selain berdagang juga memperkenalkan dan menyebarkan agama Islam.
Bahkan terjadi perkawinan antara pedagang dengan wanita pribumi. Adanya perkawinan membuat perkembangan Islam cepat dan ke berbagai wilayah, salah satunya di Jawa.
Mereka menyebarkan Islam dengan berbagai cara, seperti lewat kebudayaan maupun pendidikan.
Wali Songo
Wali Songo merupakan penyebar agama Islam di tanah Jawa. Secara harfiah “wali” diartikan wakil, sedangkan “songo” dalam bahasa Jawa artinya sembilan.
Mereka melakukan dakwah ke masyarakat di tanah Jawa dengan cara yang berbeda-beda dan tersebar diberbagai daerah.
Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim menyebarkan Islam di wilayah Gresik, Jawa Timur. Dia, berdakwah dengan cara pergaulan di masyarakat.
Budi pekerti dan ramah tamah selalu diperlihatkan saat pergaulan sehari-hari dengan masyarakat. Sunan Gresik juga mengajarkan cara bercocok ke masyarakat untuk mengambil hati.
Sunan Gresik juga mendirikan pondok pesantrena dan masjid sebagai tempat untuk mengajarkan agama Islam.
Banyak sumber jika Sunan Gresik berasal dari Timur Tengah, yakni Persia. Banyak dianggap sebagai wali yang pertama kali menyebarkan Islam di Pulau Jawa.
Sunan Giri atau Raden Paku tidak hanya menyebarkan Islam di tanah Jawa tapi juga sampai ke Maluku.
Sunan Giri menyebarkan Islam melalui dunia seni dan sangat berpengaruh terhadap pemerintahan di Kerajaan Demak yang merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa.
Sunan Bonang yang disebut juga Raden Makdum Ibrahim menyebarkan Islam melalui kesenian. Ia menciptakan tembang tombo ati yang terkenal hingga saat ini.
Gamelan Jawa yang merupakan salah satu budaya Hindu diubah dengan nuansa Islam. Di mana dengan memasukan rabab dan bonang sebagai pelengkap dari gamelan Jawa.
Sunan Drajat atau Raden Qasim menggunakan kegiatan sosial sebagai media untuk berdakwah. Ia yang mempelopori penyantunan kepada anak-anak yatim dan orang-orang sakit.
Di bidang politik Sunan Drajat sangat mendukung Kerajaan Demak.
Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah berasal dari Palestina. Ia belajar agama diberbagai negara sejak usia belia.
Sunan Gunung Jati merupakan satu-satunya wali yang menjadi kepala pemerintah. Ia mendirikan Kasultanan Cirebon dan Banten.
Posisinya tersebut dimanfaatkan untuk menyebarkan dan mengembangkan Islam. Cara berdakwah yang dipakai cenderung seperti Timur Tengah yang lugas dan mendekati masyarakat dengan membangun infrastruktur.
Sunan Kudus atau Ja’far Shadiq cara mendekati masyarakat dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Itu bisa terlihat pada arsitektur Masjis Kudus yang memiliki keunikan.
Ia berasal dari Palestina dan menyebarkan agama Islam di pesisir Jawa Tengah. Ia pernah menjadi Senapati atau panglima perang Kerajaan Islam Demak.
Kisah Ashabul Kahfi dimulai dari ketika tujuh pemuda sedang tidur di dalam goa. Mereka dibangukan dan keluar dari goa tersebut. Ketika sampai di kota, ketujuhnya heran. Kotanya sudah berubah sama sekali dari terakhir kali mereka tinggalkan. Peristiwa ini terjadi sebelum zaman Nabi Muhammad SAW dan dijelaskan dalam Alquran surat Al-Kahfi.null
Semua dimulai dari keberadaan raja yang menyembah berhala. Raja dan pasukannya menyerbu kota Afasus. Raja itu bernama Diqyanius yang berasal dari Romawi itu berhasil menguasai kota Afasus.
Akan tetapi, sebagian rakyat tentu saja menolak, termasuk ketujuh pemuda tersebut. Mereka bersembunyi dari kejaran pasukan raja. Supaya tidak terbunuh, mereka bersembunyi di dalam goa.
Mereka tertidur lalu bangun 309 tahun kemudian. Kota mereka tentu saja sudah berubah, tidak lagi mengalami perang, tapi mereka sudah tidak berada di kota yang sama dengan yang mereka kenal terakhir kali.
Tertulis dalam Al-Qur’an
Nama tujuh pemuda Ashabul Kahfi tersebut adalah Maxalmena, Martinus, Kastunus, Bairunus, Danimus, Yathbunus, dan Thamlika. Kisah mereka kemudian dikenal dengan nama Ashabul Kahfi. Kisah Ashabul Kahfi ini tertuang dalam Surat Al-Kahfi ayat 10-11:
I awal-fityatu ilal-kahfi fa ql rabban tin mil ladungka ramataw wa hayyi` lan min amrin rasyad. Fa arabn ‘al nihim fil-kahfi sinna ‘adad
“Ingatlah ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, “Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami”. Maka Kami tutup telinga mereka di dalam gua itu, selama beberapa tahun.” (QS. Al-Kahf/18: 10-11).null
Kelanjutan ceritanya tertuang dalam Surat Al-Kahfi ayat 19. Allah membangunkan para pemuda yang tertidur di goa ketika kota telah aman.
Wa kalika ba’anhum liyatas`al bainahum, qla q`ilum min-hum kam labitum, ql labin yauman au ba’a yam, ql rabbukum a’lamu bim labitum, fab’a aadakum biwariqikum hih ilal-madnati falyanur ayyuh azk a’man falya`tikum birizqim min-hu walyatalaaf wa l yusy’iranna bikum aad
“Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: ‘Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)’. Mereka menjawab: ‘Kita berada (disini) sehari atau setengah hari’. Berkata (yang lain lagi): ‘Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun.” (QS al-Kahfi:19).
Keputusan tujuh pemuda untuk berlindung di gua bukanlah sebuah pelarian tetapi cara mereka untuk menjaga keimanan terhadap Allah SWT. Sebab, tujuh pemuda itu tidak mau ikut dengan Raja Diqyanius yang menyembah berhala.
Pada Surat Al-Kahfi ayat 19, jelas bahwa Allah SWT lebih mengetahui segala macam hal termasuk jangka waktu tujuh pemuda itu tidur di dalam gua. Sementara bagian dimana mereka disuruh pergi ke kota dan memilih makanan yang baik ditafsirkan sebagai keluarga mana yang paling baik makanannya dan paling halal.
Demikian kisah Ashabul Kahfi yang semoga dapat menginspirasi Anda hingga dapat mencintai Sang Pencipta yang Maha Segalanya.
Makanan sehat di dalam Islam sangatlah penting untuk disimak, hal ini beliputi bukan hanya pada persoalan hukum halal atau haram makanan, tetapi kualitas (bobot kandungan gizi) dan efek kesehatan makanan terhadap tubuh.
Allah berfirman dalam Al Qur’an surat Al A’raf ayat 31:
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) mesjid, Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”(QS Al-A’raf: 31)
Hal senada dapat ditemukan di surat Al Baqarah 168:
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah: 168)
Sesungguhnya pangkal penyakit kebanyakan bersumber dari makanan. Maka tak heran bila Rasulullah memberi perhatian besar dalam masalah ini, karena makanan yang sehat akan membuat tubuh sehat.
Dalam Al-Qur’an prinsip makanan sehat adalah tidak berlebih-lebihan. Rasulullah bersabda: “Anak Adam tidak memenuhkan suatu tempat yang lebih jelek dari perutnya. Cukuplah bagi mereka beberapa suap yang dapat memfungsikan tubuhnya. Kalau tidak ditemukan jalan lain, maka (ia dapat mengisi perutnya) dengan sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiganya lagi untuk pernafasan” (HR Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).
Lalu prinsip lain yang disebutkan pada dalil lainnya adalah halal dan tayyiban, yang dimaksud dengan halal yakni diketahui atau jelas riwayat makanannya (misalnya bersumber dari mana dan diproses dengan cara seperti apa) selain itu memenuhi standar halal makanan yang banyak disebutkan dalam Al-Qur’an maupun Hadits. Sementara istilah tayyiban disini yakni kualitas kandungan gizi/nutrisi dalam makanan.
Rasulullah melarang untuk makan lagi sesudah kenyang. “Kami adalah kaum yang tidak makan sebelum merasa lapar dan bila kami makan tidak pernah kekenyangan”(HR Bukhari Musim).
Sebagai mahluk sosial, kita tidak akan dapat hidup dengan baik tanpa bantuan orang lain. Sejak kita lahir bahkan hingga kita meninggal, tentunya kita membutuhkan bantuan orang lain. Maka dari itu, kita harus menjaga hubungan baik dengan sesama, terutama dengan tetangga. Berikut ini adalah beberapa adab bertetangga yang perlu kita aplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari:
1. Bersikap baik
Kepada tetangga, hendaknya kita selalu bersikap baik agar hubungan yang terjalin pun semakin hangat dan akrab. Hal ini juga telah diperintahkan langsung oleh Allah SWT dalam Al Quran,
“Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh.” (QS. An Nisa: 36).
2. Tidak menghalangi bangunan tetangga
Dalam bertetangga, tentu kita akan memiliki bangunan rumah yang saling berdampingan. Bahkan bebrerapa rumah juga berdempetan. Sebagai tetangga yang baik, hendaknya kita tidak menghalangi tetangga untuk membangun rumah atau menghalangi udara dan sinar matahari ke rumahnya.
“Janganlah salah seorang di antara kalian melarang tetangganya menancapkan kayu di dinding (tembok)nya” (HR.Bukhari (no.1609); Muslim (no.2463); dan lafazh hadits ini menurut riwayat beliau; Ahmad (no.7236); at-Tirmidzi (no.1353); Abu Dawud (no.3634); Ibnu Majah (no.2335); dan Malik (no.1462)
3. Memelihara hak tetangga
Salah satu hal yang harus kita utamakan adalah memelihara hak tetangga. Hak tetangga yang perlu kita jaga adalah melindungi harta mereka dari orang jahat, serta memberikan beberapa hadiah.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, aku memiliki dua tetangga, manakah yang aku beri hadiah?’ Nabi menjawab,
إِلَى أَقْرَبِهِمَا مِنْكَ باَباً
‘Yang pintunya paling dekat dengan rumahmu’” (HR. Bukhari (no.6020); Ahmad (no.24895); dan Abu Dawud (no.5155)).
4. Tidak menggangu tetangga
Adab bertetangga selanjutnya adalah tidak mengganggu tetangga. Misalnya tidak mengeraskan suara televisi sehingga mengganggu istirahat tetangga dan kegiatan yang mungkin membuat mereka menjadi tidak nyaman. Begitu pula ketika akan mengadakan sebuah acara di rumah, hendaknya meminta izin tetangga terdekat terlebih dahulu agar mereka tidak merasa terganggu dengan acara yang kita selenggarakan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir maka janganlah dia mengganggu tetangganya’”(HR. Bukhari (no.1609); Muslim (no.2463); dan lafazh hadits ini menurut riwayat beliau, Ahmad (no.7236); at-Tirmidzi (no.1353); Abu Dawud (no.3634); Ibnu Majah (no.2335); dan Malik (no.1462)).
Dari Abu Syuraih radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,
“Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. “Sahabat bertanya, “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yang tetangganya tidak aman dari keburukannya” (HR. Bukhari (no.6016)).
5. Memberi makanan
Kepada tetangga yang paling dekat rumahnya dengan kita hendaknya sering-sering berbagi makanan. Dengan begini, hubungan kita dengan tetangga akan menjadi semakin baik dan harmonis. Hal ini telah dicontohkan oleh Rasul kepada para tetangganya.
Rasulullah shallallahu ‘alahi wassalam bersabda kepada Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu,
“Wahai Abu Dzar, apabila kamu memasak sayur (daging kuah) maka perbanyaklah airnya dan berilah tetanggamu” (HR. Muslim).
6. Sabar jika diganggu
Adab bertetangga lainnya adalah selalu bersabar jika diganggu oleh tetangga yang jahil. Memang terdapat beberapa tetangga yang suka membuat masalah, namun hendaknya sebagai muslim kita dapat menahan amarah dan menyikapinya dengan sabar. Begitu pula yang dicontohkan oleh Rasulullah saw ketika dulu.
“Ada tiga kelompok manusia yang dicintai Allah, … Disebutkan diantaranya: “Seseorang yang mempunyai tetangga, ia selalu disakiti (diganggu) oleh tetangganya, namun ia sabar atas gangguannya itu hingga keduanya dipisah boleh kematian atau keberangkatannya” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).
7. Menjenguk ketika ia sakit
Sebagai tetangga yang baik, hendaknya kita selalu memberikan dukungan kepada tetangga. Begitu pula ketika ia sakit, maka sudah seharusnya kita menjenguknya sembari memberikan semangat dan doa agar ia segera sembuh dari penyakitnya. Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda:
“Apabila seseorang menjenguk saudaranya yang muslim (yang sedang sakit), maka (seakan-akan) dia berjalan sambil memetik buah-buahan Surga sehingga dia duduk, apabila sudah duduk maka diturunkan kepadanya rahmat dengan deras. Apabila menjenguknya di pagi hari maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar mendapat rahmat hingga waktu sore tiba. Apabila menjenguknya di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar diberi rahmat hingga waktu pagi tiba.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad dengan sanad shahih).
Kita sering kali membaca sejarah tentang penemu-penemuan hebat di dunia ini dalam hal tekonologi atau ilmu pengetahuan lainnya. Namun sudah tahukah kamu bahwa tak sedikit bahkan hampir sebagian besar penemuan-penemuan hebat dibidang ilmu pengetahuan ditemukan oleh para ilmuan muslim pada zaman tersebut. Dan berikut adalah beberapa ilmuan muslim sekaligus penemuannya:
1. Ibnu Sina (Avicenna)
Dia adalah seorang filsuf yang terkenal di dunia medis. Dia bahkan dijuluki sebagai bapak Kedokteran Modern. Dua karyanya yang paling berpengaruh adalah ensiklopedia filsafat Kitab al-Shifa (The Book of Healing) dan The Canon of Medicine. Keudanya kini dipakai sebagai rujukan standar ilmu medis di seluruh dunia.
2. Al – Zahrawi
Sama seperti Ibnu Sina, Al – Zahrawi juga berkutat dibidang media. Dia adalah Bapak ilmu bedah modern. Dia berhasil mengenalkan catgut (benang) sebagai alat untuk menutup luka. Selain itu, dia juga menysusun buku At-Tasrif liman Ajiza an at-Ta’lif yang menjadi rujukan para dokter hingga sekarang. Di dalamnya, Al – Zahrawi menuliskan hal-hal yang terkait tentang bedah, penyakit, dan temuan-temuannya berupa alat kedokteran.
3. Al – Khawarizmi
Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi adalah ahli matematika Islam yang dikenal sebagai penemu aljabar. Selain itu, ilmuwan asal Persia ini juga menemukan algoritma dan sistem penomoran. Al-Khawarizmi juga dikenal ahli di berbagai bidang, seperti astrologi dan astronomi.
4. Abbas ibn Firnas
Selama ini mungkin kita hanya mengenal Wright bersaudara sebagai orang pertama yang menemukan pesawat terbang sekaligus manusia pertama yang berhasil terbang. Padahal pada tahun 9 Masehi, Abbas ibn Firnas sudah berhasil mendesain alat yang memiliki sayap untuk terbang layaknya kostum burung. Alat tersebut dibuat dengan perhitungan dan penelitian yang rumit. Pada waktu percobaannya, ia berhasil terbang cukup jauh hingga kemudian jatuh dan mematahkan tulang belakangnya. Ia kemudian menginspirasi ilmuwan barat untuk mengembangkan pesawat.
5. Ibnu Al Haytham
Ia dikenal sebagai Bapak Optik Modern. Karyanya yang terkenal adalah Kitab al-Manazir (Book of Optics) yang hingga kini diakui sebagai rujukan ilmu optik. Al Haytham berhasil menjelaskan bagaimana cara kerja optik mata manusia dalam menangkap gambar secara detail. Ia juga memberikan kontribusi dengan melakukan penelitian terhadap lensa, cermin, dan dispersi cahaya.
6. Jabir ibn Hayyan
Jabir Ibn Hayyan adalah seorang ahli kimia yang berasal dari Iran. Ia berhasil melarutkan emas dan menemukan asam kuat seperti asam sulfat, hidroklorik dan nitrat. Untuk menetralisir “monster” yang ia ciptakan, yaitu asam, ia kemudian memproduksi alkali. Karya-karyanya yang berupa buku adalah Kitab Al-Kimya, Kitab Al-Sab’een, Kitab Al-Rahmah, dan lain-lain.
7. Ahmad ibn Tulun
Ia adalah orang pertama yang mencetuskan perawatan medis modern berupa rumah sakit Al-Fustat di Kairo, Mesir. Tulun yang saat itu menjabat sebagai gubernur menyediakan layanan kesehatan yang gratis untuk semua orang membutuhkannya.Rumah sakit yang dibangun pada abad ke-9 tersebut sudah memiliki manajemen perawatan yang modern, rinci, dan maju. Al-Fustat juga menyediakan perawatan untuk pasien gangguan jiwa.
8. Al – Battani
Al – Battani merupakan seorang astronom yang berhasil menemukan hitungan dalam satu tahun terdapat 365 hari, 5 jam, 46 menit, dan 24 detik. Pria dengan nama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Jabir ibn Sinan ar-Raqqi al-Harrani as-Sabi al-Battani ini juga menemukan sejumlah persamaan trigonometri.
9. Ibnu Khaldun
Dia merupakan salah satu ilmuan islam popular di dunia yang berasal dari Tunisia. Dia dikenal sebagai bapak pendiri ilmu historiografi, sosiologi, dan ekonomi. Adapun karya-karyanya yang paling dikenal yaitu Muqadimmah. Terlebih, dia sudah hafal Al-Quran sejak dini. Pemikiran-pemikiran Ibnu Khaldun tentang teori ekonomi yang logis dan realistis sudah ada lebih dulu, sebelum Adam Smith dan David Ricardo mengemukaakan teori-teori ekonominya. Ketika usia remaja, tulisan-tulisan Ibnu Khaldun dengan studi dan pengamatan yang sangat mendalam, sudah menyebar ke mana-mana.
10. Al-Jazari
Abu al-Iz ibn Ismail ibn al-Razaz al-Jazari adalah seorang ilmuan dari Al-Jazira, Mesopotamia, yang hidup pada abad pertengahan. Ia menulis buku Pengetahuan Ilmu Mekanik tahun 1206, dimana ia menjelaskan lima puluh peralatan mekanik berikut instruksi tentang bagaimana cara merakitnya.
Al-Jazari merupakan seorang tokoh besar di bidang mekanik dan industri, mendapat julukan sebagai bapak Modern Engineering berkat temuan-temuannya yang banyak mempengaruhi rancangan mesin-mesin modern saat ini, diantaranya combustion engine, crankshaft, suction pump, programmable automation, dan sebagainya.
Kecerdasan bukan hanya milik sebagian orang saja. Bukan hanya milik orang-orang yang “sukses”, sementara orang yang “belum sukses” kemudian dilabeli sebagai orang yang tidak memiliki kecerdasan. Tetapi, siapa pun mesti memiliki kecerdasan. Rasulullah Saw memiliki kecerdasan matematik yang –sungguh- luar biasa. Begitu juga para sahabat nabi, termasuk sahabat Ali bin Abi Thalib.
Kalau merujuk pada paradigma kecerdasan Gardner, ia merumuskan bahwa setiap orang sesungguhnya memiliki delapan kecerdasan yang biasa dikenal multiple intelligences. Yaitu kecerdasan linguistik, matematis, musikal, kinestetik, musical, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Kedelapan kecerdasan tersebut telah bersemayam dalam masing-masing individu dengan kadar kecerdasan yang variatif.
Konsep kecerdasan Gardner, bukanlah kemampuan seseorang yang sudah mati sejak lahir dan tetap bertahan selama hidup, sehingga tidak dapat dikembangkan. Kecerdasan seseorang selalu dapat dikembangkan dan ditumbuh-suburkan. Begitu juga, kecerdasan dapat musnah, jika tidak pernah dirawat dan dikembangkan. Di sinilah, pendidikan mempunyai peran yang sangat besar untuk membantu perkembangan kecerdasan. Baik pendidikan formal maupun non formal. Pendidikan di sekolah, keluarga, maupun lingkungan masyarakat.
Sahabat Nabi saw, Ali bin Abu Thalib memiliki kecerdasan logis-matematis yang luar biasa. Beliau yang dikenal mempunyai kelebihan fisik yang sangat kuat, gagah serta pemberani di medan peperangan, juga dikaruniai dengan kecerdasan yang luar biasa, beberapa hikayat menceritakan beliau mampu memecahkan persoalan matematis logis yang rumit hanya dalam hitungan detik!
Bilangan Bulat Dalam “kesempatan” tulisan ini, saya paparkan satu cerita terkait yang membuktikan bahwa sahabat Nabi SAW –Ali bin Abi Thalib– juga termasuk dari sekian orang yang memiliki kecerdasan matematik, yang semakin dapat meyakinkan kepada kita semua bahwa siapa pun orangnya sesungguhnya memiliki potensi kecerdasan matematis. Cerita berjudul “Si Yahudi”.
Satu hari seorang Yahudi datang kepada Sahabat Ali, dia tahu kalau Ali mempunyai kecerdasan lebih. Dia ingin mengajukan pertanyaan yang sulit dan sehingga Ali akan tak mampu menjawabnya. Si Yahudi berpikir dengan itu, dia akan mampu mempermalukan Ali di depan semua ummat.
Dia bertemu dengan Ali bertanya “Yaa Ali, berikanlah kepadaku sebuah angka, yang apabila kita bagi dengan angka 1 – 10, maka hasilnya selalu bilangan bulat tidak pernah sebagai pecahan”.
Sahabat Ali hanya menatap si Yahudi seraya berkata “Ambillah jumlah hari dalam setahun dan kalikan dengan jumlah hari dalam satu minggu dan Anda akan memiliki jawaban Anda.” Orang Yahudi sontak kaget tetapi karena dia adalah seorang musyrik, dia masih tidak percaya dengan jawaban tersebut. Kemudian ia menghitung jawaban tersebut, yakni:
Jumlah Hari dalam Tahun Hijriyah = 360 hari Jumlah Hari dalam Minggu = 7 hari Perkalian keduanya = 360 x 7 = 2520. Selanjutnya 2520/1 = 2520 2520/2 = 1260 2520/3 = 840 2520/4 = 630 2520/5 = 504 2520/6 = 420 2520/7 = 360 2520/8 = 315 2520/9 = 280 2520/10= 252
Subhanallah! Sungguh luar biasa! Subhanallah. Kisah cerita di atas, sungguh-sungguh luar biasa. Hal ini dapat menunjukkan dan memperkuat pemahaman selama ini, terutama terkait paradigma baru kecerdasan yang digagas Gardner, multiple intelligences. Howard Gardner (1983) mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang bermacam-macam dan dalam situasi yang nyata. Sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib, telah membuktikan kepada kita bahwa, kecerdasan adalah bagaimana kita dapat menyelesaikan suatu permasalahan dengan cepat, tepat, dan bijak.
Setiap individu –siapa pun orangnya- pasti memiliki delapan kecerdasan dengan kadar kecenderungan yang belum tentu sama. Termasuk juga kepemilikan kecerdasan matematis. Kalau sahabat Ali bin Abi Thalib –yang oleh Nabi saw disebut sebagai pintunya ilmu, maka –tentunya- Nabi Muhammad saw yang menjadi kotanya ilmu, juga memiliki kecerdasan logis-matematis yang luar biasa. Kecerdasan Sahabat Ali bin Abi Thalib melewati proses matematika yang kompleks dalam hitungan detik! Karena itu, merupakan suat keniscayaan jika Nabi Muhammad saw bersabda: “Aku adalah kotanya Ilmu, sedangkan Ali adalah pintu-pintunya”.
Pesan tulisan ini sesunggunya bukan untuk memprovokasi agar kita menjadi orang yang cerdas secara matematis, namun yang lebih penting adalah bagaimana kita dapat menemu-kenali potensi kecerdasan kita masing-masing, kemudian dikembangkan, sehingga dapat sampai pada kondisi akhir terbaik. Setiap individu sesungguhnya adalah sang juara di bidangnya masing-masing.
Di akhir tulisan ini, penulis ingin menegaskan (kembali) bahwa pada dasarnya setiap diri kita memiliki kemampuan kecerdasan yang unik dan senantiasa dapat berubah. Setiap manusia termasuk individu unik yang mempunyai eksistensi dan memiliki jiwa sendiri, serta mempunyai hak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan iramanya masing-masing yang khas. Karena itu, keluargalah yang paling menentukan terhadap masa depan anak, begitupula corak anak dilihat dari perkembangan sosial, psikis, fisik, dan religiusitas juga ditentukan oleh keluarga